Bangun Kesiangan Belum Shalat Shubuh

Pertanyaan:

Ustad, Bagaimana niat seseorang yang hendak shalat shubuh tapi dia bangun kesiangan. Apakah dia niat qodlo’ atau niat sholat shubuh seperti biasa?

Jawaban:

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim Rasulullah SAW, bersabda: “Apabila seseorang tertidur atau lupa tidak mengerjakan shalat, maka hendaknya segera melaksanakan shalat ketika ingat.” Dari hadits ini para ulama’ fiqh sepakat bahwa setiap orang lupa atau ketiduran sehingga tidak dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya maka harus segera diqodlo’ (diganti) di waktu yang lain. Rasulullah sendiri bersama para sahabat juga pernah kesiangan pada waktu shubuh dan ketika bangun langsung shalat.

Adapun meninggalkan shalat karena sengaja sehingga habis waktu, apakah wajib qodlo’? Ulama’ fiqh berbeda pendapat. Menurut jumhur (mayoritas) Ulama’ wajib diqodlo’. Karena shalat itu kewajiban kepada Allah dan kewajiban itu sama dengan hutang sedangkan hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar. Juga diqiyaskan dengan yang karena lupa dan tertidur, kalau karena lupa dan tertidur saja wajib diqodlo’ apa lagi kalau sengaja tentu lebih wajib untuk diqodlo’.

Tetapi sebagian ulama’ Ahliddzohir (Abu Muhammad bin Hazm) berpendapat, bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat sampai habis waktunya  itu tidak boleh diqodlo’ dan dia menanggung dosa nanti di akhirat. Alasannya, tidak ada nash yang jelas memerintahkan qodlo’ kepada orang yang sengaja meninggalkan shalat. Sedangkan qiyas dengan orang karena lupa atau ketiduran itu tidak boleh dalam ibadah menggunakan qiyas. (Ibnu Rusy. Bidayatul Mujtahid Juz I hal.  : 132)

Apakah orang yang shubuhnya kesiangan niatnya qodlo’ atau niat biasa? Niatnya qodlo’an sebagai gantinya ada’an. Teksnya begini : Usholli fardlos subhi rok’ataini mustaqbilal qiblati QODLO’AN lillahi ta’ala. Allahu akbar. Namun walaupun niatnya ada’an dan tidak niat qodlo’an kalau shalat dilakukan sehabis waktunya, maka dengan sendirinya menjadi qodlo’. Usahakan shalat tepat waktu karena paling utamanya amal adalah shalat tepat waktu.  Wallohu a’lam bisshowab.

————————————————————————–
Diasuh oleh KH. Abdurrahman Navis, Lc., M.HI.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya.
Ketua Bidang Fatwa MUI Jatim.

This entry was posted in Tanya Jawab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>