Batas-Batas Pacaran Dalam Islam. Tertutupkah Pacaran dalam Hukum Islam?

Di zaman seperti sekarang ini, rasanya pacaran tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan para kawula muda. Sudah menjadi hal yang tak terelakkan. Masalahnya, bagaimana sikap Islam? Sampai batas-batas mana pacaran diperbolehkan?

Dinda Istghfariyah, Mahasiswi di Surabaya

 Jawaban:

Ukhti Dinda Istighfariyah yang dimuliakan Allah SWT, pacaran dalam pengertian umum yang berkembang di masyarakat yaitu dua orang lain jenis yang bukan mahrom saling memadu kasih dan mengungkapkan rasa cinta masing-masing dengan cara berdua-duaan di tempat tertentu bahkan  sebagian dilanjutkan dengan kontak fisik baik itu berboncengan,  bergandengan tangan, hingga (maaf) berciuman dan lebih dari itu. Jelas itu dilarang dalam islam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak bersepi-sepian antara laki-laki dan perempuan kecuali yang ketiga itu syetan.”(H.R. Muslim)

Allah SWT menjelaskan tentang batasan hubungan lelaki dan perempuan, mulai yang paling kecil sampai yang paling besar sebagai tindakan preventif agar tidak terjadi pergaulan bebas yang mengakibatkan rusaknya tatanan kehidupan sosial. Dalam surat al- Nur ayat 30-31, Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki  yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”- “Katakanlah kepada wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari mereka……”

Ukhti, dilarangnya berpacaran dalam islam bukan berarti islam melarang seorang lelaki berniat menikahi seorang perempuan, hal tersebut dikarenakan pernikahan dalam islam sangat dianjurkan. Begitu juga bagi seseorang yang mau menikah bukan berarti harus menutup mata atau membeli kucing dalam karung, islam memberikan dispensasi kepada seorang lelaki yang akan menikah untuk melihat dan mengenal calon pendamping hidupnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang hendak melamar seorang perempuan kemudian mampu melihat dan mengetahui sesuatu yang menjadikan tertarik untuk dinikahinya, maka lakukanlah!” (H.R. Abu Daud).

Para ulama menjelaskan batasan yang boleh dilihat adalah wajah dan telapak tangan serta didampingi oleh wali atau mahromya sehingga tidak terjadi khulwah. Untuk mengetahui visi dan kepribadiannya boleh dengan mencari informasi dari orang terdekatnya atau dengan cara komunikasi lainnya yang tidak mengakibatkan kontak fisik seperti melalui surat atau media lainnya yang tidak menggerakkan syahwat.

Di zaman modern justru kita harus berhati-hati dalam menyikapi pergaulan agar tidak terjerumus pada hal yang negatif yang dapat merugikan kita semua. Islam melarang pacaran tetapi islam menganjurkan pernikahan yang diawali dengan nadzor dan khitbah agar mencapai sakinah mawaddah warohmah. Wallahu a’lam bisshowab.

————————————————————————
Diasuh oleh KH. Abdurrahman Navis, Lc., M.HI.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya.
Ketua Bidang Fatwa MUI Jatim.

This entry was posted in Tanya Jawab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>