Memajang Gambar, Foto dan Patung Keramik

Pertanyaan:

Ustadz, untuk menghias rumah, saya menatanya dengan baik dan di dinding selain saya tempel kaligrafi juga saya pasang foto pernikahan, gambar ulama’ dan lainnya, di bufet saya susun dengan rapi patung-patung keramik kecil. Yang saya tanyakan bagaimana hukum menempel foto di tembok dan meletakkan patung keramik di bufet? Mohon penjelasannya.

                        Eny Suzana, Jl. Bangunsari Surabaya

Jawaban:

Mbak Eny Suzana yang saya hormati, rumah adalah tempat bagi seseorang untuk mendapatkan ketenangan bersama keluarga, Allah SWT berfirman : “Dan Allah menjadikan dari rumahmu ketenangan…” maka dari itu hendaknya diupayakan rumah itu bersih, rapi dan asri sesuai dengan tatanan rumah yang islami dan disinari dengan sholat dan bacaan Al-Qur’an. Rasulullah saw bersabda : Terangilah rumahmu dengan sholat dan bacaan Al-Qur’an !” (H.R. Muslim)

Mengatur kamar tidur yang terpisah antara kamar tidur bapak ibu, anak yang sudah usia di atas tujuh tahun, kamar pembantu serta menata kamar tamu yang apik dan tidak bercampur antara tamu laki-laki dan tamu perempuan. Terlebih juga menghiasi rumah dengan kaligrafi yang indah dan menyediakan tempat khusus yang steril dari najis untuk sholat termasuk bagian dari tatanan rumah yang islami dan berkah. Nah, kalau menempel gambar yang bernyawa di tembok dan meletakkan patung keramik di bufet, ini dikhawatirkan ‘malaikat rahmat’ tidak mau masuk ke dalam rumah itu bahkan akan dijadikan sarang syetan. Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke suatu rumah yang di dalamnya ada gambar atau patung.”(H.R. Muttafaq ‘Alaih). Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya paling parahnya siksa manusia nanti di hari kiamat adalah  penggambar atau pematung.” (H.R. Muslim)

Dari hadits tersebut imam al-Thobari menjelaskan, “ Sesungguhnya yang dimaksud penggambar atau pematung adalah mereka yang hasil karyanya dijadikan sesembahan, dan dia menjadi kafir, tetapi kalau tidak untuk disembah dia hanya berdosa.”

Mufti Mesir Syeikh Muhammad Bakhit berfatwa bahwa yang jelas diharamkan adalah gambar yang bernyawa melalui lukisan tangan manusia, adapun hasil fotografi seperti untuk kepentingan KTP, Paspor, alat peraga dan lainnya itu tidak termasuk gambar yang diharamkan karena tidak mengganggu aqidah.

Dr. Yusuf Qordlowi menyimpulkan dari beberapa pendapat ulama tentang hukum gambar atau patung :

  1. Gambar  atau patung yang untuk disembah jelas haram dan syirik.
  2. Gambar atau patung yang tidak untuk disembah tetapi diagungkan dan dihormati itu haram.
  3. Gambar yang tidak diagungkan atau dikultuskan dan hanya sebagai hiasan/pajangan saja, hukumnya makruh.
  4. Gambar yang tidak berbentuk makhluq yang bernyawa seperti pepohonan, perahu, kapal dan lain-lain, itu tidak dilarang.
  5. Fotografi hukum dasarnya  boleh selama tidak dikultuskan dan disembah serta tidak ada unsur pornografi. (al Halal wal Haram fil Islam : 109)

Syekh Nawawi ibn Umar al-Jawi al-Banteni menjelaskan : “Gambar hewan yang dipajang di tembok atau dipakai di surban dan  baju  itu haram tetapi kalau hanya dibuat bantal atau alas tikar itu tidak haram. Tetapi malaikat tetap tidak masuk ke rumah itu sesuai umumnya hadits….” (Marqotu Shu’udit Tashdiq :73)

Mbak Eny Suzana, menurut pendapat al-faqir ini, bahwa memajang foto pernikahan sebagai kenangan dan foto ulama’ sekedar mengingat dan menghormati “tidak dilarangtetapi kalau memajang gambar sesembahan, gambar porno atau patung keramik yang berbentuk makhluq yang bernyawa itu “dilarang dan malaikat rahmat tidak akan masuk ke rumah itu, tentu yang akan masuk adalah syetan yang akan mengganggu ketentraman penghuninya. Wallahu a’lam bisshowab.

———————————————————————–
Diasuh oleh KH. Abdurrahman Navis, Lc., M.HI.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya.
Ketua Bidang Fatwa MUI Jatim.

This entry was posted in Tanya Jawab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>