Menggabungkan Niat Mengqodlo’ (Mengganti) Puasa Ramadlan dengan Puasa Sunah

Pertanyaan:

Dua tahun terakhir ini saya masih ingat kalau saya memiliki hutang puasa Ramadan. Karena faktor psikologi saya yang tidak stabil, akhirnya saya membiarkan waktu saya beberapa hari tidak puasa. Itu terjadi selama Ramadhan dua tahun terakhir. Saya ingin mengqadlanya. Bagaimana cara dan niatnya? Dapatkah niat mengqadla’ puasa Ramadan sekaligus juga dipakai untuk niat puasa lainnya?
Siti Maghfirah, Kebondalem, Nganjuk

Jawaban:

Mbak Siti Maghfirah yang saya hormati, puasa adalah rukun islam yang ketiga yang diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad sebagaimana juga diwajibkan kepada umat sebelumnya. Esensinya sama walaupun waktu dan tata caranya berbeda. Untuk umat Islam diwajibkan puasa pada bulan Ramadlan sebulan penuh, meninggalkan makan, minum, jima’ (berhubungan suami istri) dan hal yang membatalkan puasa lainnya dimulai sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari yang dibarengi dengan niat.

Jika tidak dapat melakukan puasa di bulan Ramadlan karena sakit, bepergian atau karena sebab lain termasuk karena faktor psikologis, maka wajib diganti di waktu yang lain. Allah SWT berfirman, “…Maka barang siapa diantara kamu sekalian sakit atau bepergian, maka diganti di hari yang lain…” (Q.S. al- Baqarah :184).

Sayyidatina ‘Aisyah berkata setelah berkonfirmasi dengan Rasulullah tentang shalat dan puasa yang biasa ditinggalkan oleh wanita yang sedang menstruasi (haid), “Kami diperintah (oleh Rasulullah) untuk mengganti puasa dan tidak diperintah untuk mengganti shalat.”

Mbak Maghfiroh yang saya hormati, puasa yang Anda tinggalkan itu baik karena ada alasan syar’i seperti sakit, bepergian, haid, atau alasan non syar’i seperti karena malas, psikologis terguncang dan lain-lain, puasanya tetap harus diqodlo’ (diganti). Bagaimana caranya? ya dengan puasa di hari-hari yang tidak dilarang sepanjang tahun. Syarat rukunnya sama, cuma niatnya yang berbeda. Jika puasa di bulan ramadlan seharusnya niat ‘adaa’ diganti ‘qodlo’. Contohnya, “Nawaitu shouma ghodin an qodlo’i fardlissyahri romadlona lillahi ta’ala.” (niat aku puasa besok untuk mengqodlo’ (mengganti) puasa di bulan ramadlan karena Allah ta’la).

Niat qodlo’ ya hanya untuk qodlo’ tidak boleh untuk yang lain. Namun ada sebagian pendapat ulama’ mengatakan, kalau dia terbiasa puasa sunnah di hari itu kemudian digunakan untuk puasa qodlo’, maka dia mendapatkan nilai pahala puasa sunnah itu walaupun tidak diniatkan dikarenakan keistiqomahannya. Niat puasa hanya untuk satu amalan dan tidak boleh untuk dua amalan sekaligus. Wallahu a’lam bisshowab.

————————————————————————
Diasuh oleh KH. Abdurrahman Navis, Lc., M.HI.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya.
Ketua Bidang Fatwa MUI Jatim.
Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim.

This entry was posted in Tanya Jawab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>